Text
MAKNA SIMBOLIK ADAT BAI’AT SUKU GORONTALO
ABSTRAK
Fitrayani Hamlan, B 501 17 231 “Makna Simbolik Adat Bai’at Suku
Gorontalo” Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Tadulako. Dibawah bimbingan Edwan, sebagai konsultan I dan
Nur Haidar, sebagai konsultan II.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna simbolik adat Bai’at suku
gorontalo di Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara Kota Palu.
Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan
pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi
dan wawancara mendalam. Dalam penelitian ini terdapat tiga(3) informan yang
telah dipilih berdasarkan teknik purposive sampling.
Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan
indikator denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
Adat Bai’at mempunyai makna yang sangat religius dan Terutama tentang hal-hal
yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Bai’at adalah upacara adat yang
dilakukan untuk anak perempuan yang telah mengalami menstrruasi pertamanya.
Pada upacara adat baiat ini sebenarnya sangat religius yaitu mengantarkan seorang
anak perempuan menjadi muslimah yang seutuhnya. Dalam proses pemaknaan
adat bai’at ini terbagi dalam enam tahapan, yaitu (1) Monguludu (2) Momonto (3)
Momuhuto (4) Mopuhuta’a To Pingge (5) Mome’ati dan (6) Mohatamu Qur’an.
Aspek denotasi dan konotasi mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan harapan
yang dijunjung tinggi dalam adat Bai'at Suku Gorontalo. Adat ini mengandung
makna simbolik yang melambangkan aspek kehidupan masyarakat, seperti
kekokohan, kebersamaan, kesejahteraan, kesucian, dan keselarasan dengan alam.
Sedangkan pada aspek mitos jika seorang anak perempuan tidak melakukan adat
Bai'at, mereka mungkin mengalami kebingungan dan sakit-sakitan.
Kata Kunci: Semiotika, Makna Simbolik, Adat Bai’at.
Tidak tersedia versi lain